Awareness dan Koordinasi Dalam Rangka Pengandalian Resistensi Antimikroba di Kabupaten Nagekeo

29-02-2024 Loka POM di Kabupaten Ende Dilihat 39 kali

Berdasarkan data WHO, bahaya resistensi antimikroba bila tidak dicegah dapat terjadi kenaikan hingga 10 juta jiwa per tahun pada 2050, sehingga upaya pencegahan terjadinya AMR menjadi sangat penting bagi Loka POM di Kabupaten Ende. Bertempat di Aula Sinar Kasih, Mbay, Nagekeo pada 23 Februari 2024 telah dilaksanakan kegiatan awareness dan koordinasi lintas sektor sebagai upaya pengendalian AMR (Anti Microbial Resistance) atau Resistensi Antimikroba.

Kegiatan ini dibuka dan diresmikan oleh Kepala Loka POM di Kabupaten Ende, Bapak Benny Hendrawan Prabowo, S.Farm. “Penanggulangan AMR ini tidak dibebankan dan menjadi tanggung jawab pada 1 sektor saja, perlu adanya kerjasama komprehensif antar sektor. Kegiatan ini diharapkan dapat menyamakan persepsi agar kedepannya penggunaan antibimikroba bisa digunakan secara tepat guna agar masyarakat tidak mengalami resistensi antimikroba” tegas Benny dalam sambutannya.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi terkait peran organisasi profesi oleh perwakilan organisasi profesi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Nagekeo dan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Cabang Nagekeo serta materi terkait hasil pengawasan sarana pelayanan kefarmasian dan peran BPOM dalam pengendalian AMR oleh Kepala Loka POM di Kabupaten. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta dengan peserta merupakan perwakilan organisasi profesi IDI Cabang Nagekeo, IAI Cabang Nagekeo, PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) cabang Nagekeo, perwakilan pemilik sarana pelayanan kefarmasian di Nagekeo, Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Nagekeo, Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo dan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nagekeo.

Hasil dari kegiatan ini adalah terdapat komitmen pengendalian AMR yaitu sarana pelayanan kefarmasian tidak boleh menjual obat antimikroba tanpa resep dokter diluar Daftar Obat Wajib Apotek dalam bentuk sediaan apapun sejak tanggal 1 Maret 2024 dan seterusnya, sarana pelayanan kefarmasian tidak bertindak sebagai distributor dengan menjual obat ke sarana / pihak lain, dan yang terakhir adalah jika sarana menjual obat antimikroba tanpa resep dokter maka akan diberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Bersama komitmen ini, diharapkan masyarakat Nagekeo terhindar dari resistensi antimikroba dan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Nagekeo.

Sarana