Padam Listrik Tak Padamkan Semangat, Warga Beiwali Antusias Ikuti Sosialisasi Pencegahan Stunting dan Penggunaan Jamu Yang Tepat

08-06-2026 Umum Dilihat 40 kali

Ngada, 4 Juni 2026 – Dalam upaya mendukung percepatan penurunan stunting dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi serta keamanan pangan, Balai POM di Ende melaksanakan Sosialisasi Pencegahan Stunting di Kantor Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Beiwali, ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang memiliki anak stunting, ibu rumah tangga yang memiliki anak usia 0–24 bulan, remaja putra dan putri, kader PKK, kader posyandu, serta tenaga pendidik.

Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang masih menjadi tantangan di Indonesia maupun dunia. Kondisi ini terjadi akibat asupan gizi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang atau kronis yang terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu masa paling kritis dalam tumbuh kembang anak. Secara global, stunting juga berkontribusi terhadap tingginya angka kematian anak.

Kepala Desa Beiwali, Agustinus Resa, pada pembukaannya menyampaikan bahwa stunting merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Dalam penimbangan posyandu terakhir di Desa Beiwali, masih terdapat 28 balita yang mengalami stunting. Sehingga dalam kesempatan ini, ia menekankan dan berharap sosialisasi yang diberikan oleh Balai POM di Ende dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting sehingga mampu mendukung upaya penurunan angka stunting di Desa Beiwali.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Balai POM di Ende, Muhammad Bintang Pamungkas, menjelaskan bahwa Desa Beiwali merupakan salah satu desa intervensi Program Desa Pangan Aman. Pemilihan lokasi kegiatan didasarkan pada kebutuhan peningkatan pemahaman masyarakat terkait faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keamanan pangan termasuk terjadinya stunting. Melalui sosialisasi ini, peserta diajak berdiskusi untuk mengenali penyebab stunting serta langkah-langkah pencegahannya.

Meskipun sempat terjadi pemadaman listrik saat kegiatan berlangsung, antusiasme peserta tetap tinggi. Untuk menjaga efektivitas penyampaian materi, peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar yang masing-masing didampingi oleh narasumber dari Balai POM di Ende. Metode diskusi kelompok ini menciptakan suasana yang lebih interaktif sehingga peserta lebih leluasa bertanya dan berbagi pengalaman, sementara materi yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami.

Selain sosialisasi pencegahan stunting, Balai POM di Ende juga memberikan edukasi mengenai penggunaan jamu yang aman dan tepat dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional Tahun 2026 yang mengusung tema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu.” Peserta diberikan pemahaman mengenai cara memilih dan menggunakan jamu yang aman, mengenali ciri-ciri jamu yang tidak memenuhi ketentuan, terutama yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO), serta tips mengonsumsi obat bahan alam secara tepat.

Dalam edukasi tersebut disampaikan bahwa jamu merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang telah digunakan secara turun-temurun untuk menjaga kesehatan dan membantu pengobatan berbagai penyakit. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai penggunaan jamu yang benar perlu terus diwariskan kepada generasi mendatang agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal dan aman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Beiwali semakin memahami pentingnya pencegahan stunting, penerapan pola hidup sehat, serta penggunaan obat tradisional yang aman. Peningkatan pengetahuan masyarakat diharapkan dapat berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera dalam mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Sarana